RIJALUL ANSOR BAWANG

BLOGE WONG ANSOR BAWANG

PENYEMATAN TANDA PESERTA PKD dan DIKLATSAR

PKD ANSOR dan DIKLATSAR BANSER Kec.Bawang 2014.

APEL BANSER DALAM RANGKA DIKLATSAR BANSER BAWANG

PKD ANSOR dan DIKLATSAR BANSER Kec.Bawang 2014 DI LAP. SURJO BAWANG.

PUNGGAWANE RIJALUL ANSOR BAWANG

Pembacaan Rotibu al-Athos oleh Ketua MWC NU Bawang Bapak Masykur, S.Ag.

PENGURUS PAC ANSOR BAWANG

Pelantikan Kepengurusan PAC Ansor Bawang Nopember 2013.

ATRAKSI BANSER SATKORYON BAWANG

Dalam rangka Harlah NU ke 90 di SMK Ma'arif NU Bawang Nopember 2013.

SECHER MANIA LAGI MAKAN PINCUKAN

RIJALUL ANSOR KAB. BATANG DI MASJID JAMI' ALMUTTAQIN BAWANG.

RIJALUL ANSOR DI DONOWODO

Selapanan Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor PAC Bawang, bertepatan di Dukuh Donowodo Candigugur Bawang.

Jumat, 13 Desember 2013

COART-CORET

mau bikin corat-coret kok males,,, ntar kalau dah lego tak coba bikin corat-coret lagi...

Selasa, 19 November 2013

KAROMAH SAYYIDAH NAFISAH Perempuan Yahudi Sembuh dari Lumpuh




S
ayyidah Nafisah adalah putri Hasan al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali dan Sayyidah Fathimah az-Zahra’, putri Rasulullah saw. Sayyidah Nafisah dilahirkan di Mekah al-Mukarramah, 11 Rabiul Awal 145 H. Pada tahun 150 H, Hasan menjabat sebagai Gubernur Madinah dan ia membawa Sayyidah Nafisah yang baru berusia lima tahun ke Madinah. Di sana Sayyidah Nafisah menghafal Al-Qur’an, mempelajari tafsirnya dan senantiasa menziarahi makam datuknya, Rasulullah saw. Sayyidah Nafisah terkenal zuhud, berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk bertahajud dan beribadah kepada Allah SWT. Sayyidah Nafisah mulai umur enam tahun selalu menunaikan shalat fardu dengan teratur bersama kedua orang tuanya di Masjid Nabawi. Sayyidah Nafisah menikah dengan putra pamannya, Ishaq al-Mu’tamin. Pernikahan itu berlangsung pada tanggal 5 Rajab 161 H. Umur Sayyidah Nafisah ketika itu 16 tahun. Ia dikaruniai putra bernama Ummu Kultsum.
Sayyidah Nafisah adalah sosok yang sangat menghormati dan memuliakan tetangga meskipun tetangganya kafir. Dia datang ke Mesir  disaat usianya menginjak 48 tahun. Ia tiba pada hari Sabtu, 26 Ramadan 193 H. Dia tinggal bertetangga dengan keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak gadis yang lumpuh. Pada suatu hari, ibu si gadis pergi untuk suatu keperluan. Sang ibu menitipkan anaknya di tempat tetangganya, Sayyidah Nafisah.
Ketika Sayyidah Nafisah berwudhu, air basuhannya jatuh ketempat gadis Yahudi yang lumpuh itu. Tiba-tiba Allah SWT memberi ilham kepada si gadis, agar mengambil air wudhu tersebut sedikit dengan tangannya, dan membasuh kedua kakinya dengan air itu. Maka dengan izin Allah SWT, anak itu dapat berdiri dan lumpuhnya hilang. Saat itu terjadi, Sayyidah Nafisah sudah sibuk dengan shalatnya. Ketika anak itu tau ibunya sudah kembali, dia mendatanginya dengan berlari dan mengisahkan apa yang telah terjadi.
Maka menangislah si ibu karena sangat gembiranya, lalu berkata, “tidak ragu lagi, agama Sayyidah Nafisah yang mulia sungguh-sungguh agama yang benar!.”
Kemudian dia masuk ketempat Sayyidah Nafisah untuk menciumnya. Lalu dia mengucapkan Kalimat Syahadat dengan Ikhlas karena Allah SWT. kemudian datang ayah si gadis yang bernama (Ayub Abu Assaraya), yang merupakan tokoh Yahudi. Ketika dia melihat anak gadisnya telah sembuh, dia pun sangat gembira dan bertanya kepada istrinya tentang sebab kesembuhannya.
Setelah mendengar cerita istrinya, sang ayah mengangkat tangan ke langit dan berkata, “Maha Suci Engkau yang memberikan petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki. Demi Allah SWT, inilah agama yang benar.”
Lalu dia menuju rumah Sayyidah Nafisah dan minta izin untu masuk. Sayyidah Nafisah mengizinkannya. Ayah si gadis itu bicara kepadanya di balik tirai. Dia berterimakasih kepada Sayyidah Nafisah dan menyatakan masuk Islam dengan mengatakan dua Kalimah Syahadat. Kisah ini kemudian menjadi sebab masuk islam-nya sekelompok Yahudi yang lain, yang tinggal bertetangga dengan Sayyidah Nafisah.
Dari penggalan kisah ini, kita dapat mengambil hikmah dalam menyoal kehidupan bertetangga. Kemajemukan agama akan berdampak pada hubungan antar umat beragama. Sayangnya tidak semua orang paham akan pentingnya toleransi antar umat beragama. Kebanyakan orang masih menganggap bahwa agama mereka adalah yang paling benar. Semua agama pasti mengajarkan hal yang baik. Untuk itu kita harus menjaga agar hubungan antar manusia dapat berlangsung dengan baik. Manfaat toleransi beragama adalah antara lain menghindari terjadinya perpecahan dan memperkokoh silaturrahim. Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita saling membutuhkan satu sama lain apalagi dengan tetangga sekitar dimana kemajemukan agama sangat kental. Jika kita tidak menghormati pemeluk agama lain, tentunya kita akan sangat kesulitan jika suatu saat memerlukan bantuan.
Kita juga harus menyadari bahwa kemajemukan agama bukanlah hal yang negative. Justru hal ini memotivasi kita saling terbuka, menghargai, mengakui, berdialog, dan memahami satu sama lain. Hanya dengan menyapa, orang lain akan merasa diakui. Lakukan hal-hal kecil yang selama ini kita anggap remeh tapi sangat berniali bagi orang lain.
Hal-hal kecil tersebut misalnya menyapa, mengundang, dan segala bentuk interaksi lainnya. Bahkan kita pun juga bisa berdialog dalam hal apapun.
Di dalam Al-Qur’an disebutkan “…Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa’, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”. (Q.S.An-Nisa’ : 4:36).
Ayat ini menjelaskan tentang betapa pentingnya berbuat baik terhadap orang tua, karib kerabat, anak yatim, fakir miskin, tetangga yang dekat dan jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Berbuat baik terhadap tetangga yang dekat dan jauh merupakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, karena kita hidup bertetangga dan bermasyarakat dengan orang lain. Apalagi tetangga yang tinggalnya dekat dengan kita, atau berbeda dalam suatu lingkungan rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) dan sekitarnya.
Nabi saw bersabda, “Tetangga itu tiga : tetangga yang mempunyai satu hak, tetangga yang mempunyai dua hak, dan tetangga yang mempunyai tiga hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak, yaitu : tetangga yang mempunyai ikatan kefamilian; golongan tetangga ini mempunyai hak ketetanggaan, hak keislaman dan hak kefamilian. Adapun yang mempunyai dua hak, yaitu : tetangga muslim, golongan ini mempunyai hak ketetanggaan dan hak keislaman. Adapun yang mempunyai satu hak, yaitu tetangga musyrik (bukan muslim)”. Maka, betapa Nabi saw menetapkan bagi musyrik itu hak, disebabkan semata-mata ketetanggaan.
Sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Berbaiklah bertetangga dengan orang yang bertetangga dengan engkau, niscaya engkau itu muslim”. Didalam hadits yang lain juga disebutkan, dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”. (HR. Bukhari 606 dan Muslim 46).
Berikan jaminan bahwa tetangga kita merasa nyaman dengan keberadaan kita sebagai tetangganya. Hati-hati, jangan sampai menjadi tukang gosip tetangga, sehingga membuat tetangga kita selalu tidak nyaman ketika bertindak dihadapan kita, karena takut digosipin.
Malaikat Jibril as berwasiat, dari A’isyah ra, Nabi saw menuturkan, “Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya”. (HR. Bukhari 6014 dan Muslim 2624). Pesan yang sangat penting, diberikan oleh Malaikat Jibril as kepada manusia terbaik (Rasul Muhammad saw).
Serajin apapun seseorang dalam beribadah, namun dia suka menyakiti tetangga, dia terancam neraka. Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seseorang yang melapor kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya.” Nabi saw bersabda, “Dia di neraka”.
Para sahabat bertanya lagi, “Ada wanita yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang shalat sunah, dan dia hanya sedekah dengan sepotong keju. Namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah saw mengatakan, “Dia ahli surga.” (HR. Ahmad 9675 dan Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Sanadnya hasan).

Masrokhan
(Disarikan dari kitab Asy-Sya’rawi : Ana min sulalah Ahl Al-Bait, Karya Sai’id “Ainain).

Minggu, 17 November 2013

PROPOSAL PTK SEDERHANA




PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

PENDEKATAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK POKOK BAHASAN SISFAT-SIFAT ALLAH  KELAS VII SEMESTER I MTs HASYIM ASY’ARI BAWANG KAB. BATANG

Diajukan guna melengkapi tugas Mata Kuliah Metodologi Riset Tindakan

Dosen Pengampu :
Dr. Ayoeb Amin, LIS, M.Ag.

Description: logo-unissula.png

Oleh :
MASROKHAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
 (UNISSULA) SEMARANG
TAHUN 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Fakta dilapangan menunjukkan bahwa banyak siswa kelas VII M.Ts Hasyim Asy’ari Bawang bersikap pasip ketika berlangsung pembelajaran di kelas. Selama pembelajaran berlangsung siswa menjadi pendengar yang baik. Ketika guru mejelaskan materi pelajaran kebanyakan mereka diam. Demikianpun ketika guru memberikan pertanyaan, sebagian besar siswa diam tanpa komentar. Apalagi ketika guru meminta agar siswa bertanya, merekapun diam. Fakta ini dilatar belakangi karena siswa kurang diberikan strategi pembelajaran yang memadai. Oleh sebab itu dalam proses pembelajaran di sekolah dibutuhkan kreativitas dan keaktifan seorang pengajar dalam membuat strategi belajar mengajar semenarik mungkin sehingga menimbulkan motivasi belajar siswa khususnya materi Aqidah Akhlak.
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa proses belajar yang menarik dan aktif adalah keinginan setiap praktisi pendidikan. Seorang guru dalam sebuah proses belajar mengajar dituntut untuk menggunakan berbagai metode yang menarik untuk menciptakan proses belajar yang kondusif. Salah satu metode yang menarik dalam proses belajar mengajar adalah metode pendekatan aktivitas, dimana dalam prosesnya lebih mengedepankan atau berpusat pada keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar (Student Center). Dengan pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan siswa (Student Activity) diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar yang pada akhirnya juga diikuti dengan hasil atau prestasi belajar sesuai dengan tujuan pendidikan.
Fenomena di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menekankan pada aktivitas siswa perlu dilaksanakan secara terus menerus. Hal ini dapat dilakukan apabila pola interaksi antara guru dan siswa terjalin dengan baik. Namun hal lain yang juga sangat penting dalam melaksanakan kegiatan tersebut demi meningkatkan motivasi belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan guru dalam merencanakan suatu proses kegitan belajar mengajar sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti termotivasi untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas dengan berfokus pada peningkatan motivasi belajar siswa dalam Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Kelas VII melalui kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas.
B.   Identifikasi Masalah
         Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.         Banyaknya siswa kelas VII MTs Hasyim Asy’ari Bawang yang kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran Aqidah Akhlak.
2.         Siswa cenderung pasif dan hanya sebagai pendengar setia tanpa ada komentar atau respon yang positif dari siswa, sehingga pembelajaran terkesan membosankan dan menjenuhkan terutama bagi siswa dan juga pendidik.
C.   Rumusan Masalah
Berdasarkan pada identifikasi masalah tersebut diatas, maka dalam penelitian ini peneliti dapat merumuskan beberapa fokus penelitian sebagai berikut :
1.      Apakah pendekatan berbasis aktivitas dapat menumbuhkan motivasi belajar Aqidah Akhlak pokok bahasan Sifat-sifat Allah pada siswa MTs Hasyim Asy’ari Bawang kelas VII pada semester I Tahun Pelajaran 2012/2013?
2.      Bagaimana dampak kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas pada mata pelajaran Aqidah Akhlak pokok bahasan Sifat-sifat Allah pada siswa MTs Hasyim Asy’ari Bawang kelas VII pada semester I Tahun Pelajaran 2012/2013?
D.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah tersebut, maka penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1.      Tingkat Pendekatan berbasis aktivitas dalam menumbuhkan motivasi belajar Aqidah Akhlak pokak bahasan Sifat-sifat Allah pada siswa MTs Hasyim Asy’ari Bawang kelas VII pada semester I Tahun Pelajaran 2012/2013.
2.      Tingkat dampak kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas dalam pembelajaran bidang Aqidah Akhlak pokok bahasan Sifat-sifat Allah pada siswa MTs Hasyim Asy’ari Bawang kelas VII pada semester I tahun pelajaran 2012/2013.
E.  Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khazanah keilmuan :
1)      Secara teoritis, penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan mengenai strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas pada mata pelajaran Aqidah Akhlak khususnya pada pokok bahasan Sifat-sifat Allah pada siswa MTs Hasyim Asy’ari Bawang Kelas VII semester I Tahun Pelajaran 2012/2013.
2)      Secara praktis, penelitian tindakan kelas ini bisa bermanfaat bagi :
a.  Guru Madrasah Tsanawiyah
Menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan bidang Aqidah Akhlak pada siswa Kelas V1I semester I Madrasah Tsanawiyah Hasyim Asy’ari Bawang melalui implementasi strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas, dan pada MTs umumnya.
b. Siswa Madrasah Tsanawiyah
Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas khususnya materi Aqidah Akhlak
c. Lembaga Madrasah Tsanawiyah
Sebagai satu masukan atau solusi untuk mengetahui hambatan dan kelemahan penyelenggaraan pembelajaran serta sebagai upaya untuk memperbaiki dan mengatasi masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi di kelas, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan harapan akan diperoleh hasil prestasi yang optimal demi kemajuan lembaga sekolah.
d. Mapenda Kementerian Agama Kab. Batang
Sebagai masukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran agar mengikuti, memperhatikan, dan menerapkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, sehingga kelemahan pelaksaan dalam proses belajar mengajar di lapangan pendidikan dapat diperbaiki sesuai dengan rekomendasi dari hasil-hasil penelitian tindakan kelas.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.  Motivasi Belajar Aqidah akhlak
1.      Pengertian Motivasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan dengan tujuan tertentu; usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.[1]
                        Menurut M. Utsman Najati, yang dikutip oleh Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab dalam bukunya Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu. Motivasi memiliki tiga komponen, yaitu:
a.       Menggerakkan. Dalam hal ini motivasi menimbulkan kekuatan pada individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Misalnya kekuatan dalam hal ingatan, respon-respon efektif, dan kecenderungan mendapat kesenangan.
b.      Mengarahkan. Berarti motivasi mengarahkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laku individu diarahkan terhadap sesuatu.
c.       Menopang. Artinya, motivasi digunakan untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.[2]
Menurut Hoy dan Miskel yang dikutip oleh Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab dalam bukunya Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, motivasi adalah kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorongan-dorongan, kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan, ketegangan (Tension States), atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai dan menjaga kegiatan-kegiatan yang diinginkan ke arah pencapaian tujuan-tujuan personal.[3]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa motivasi belajar Aqidah Akhlak adalah suatu keinginan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar dengan tujuan tertentu dengan kekuatan penggerak yang membangkitkan aktifitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta menggerakkannya menuju tujuan tertentu, ya’ni dalam hal ini mengenai semua aspek dalam bidang Aqidah Akhlak. Motivasi tersebut timbul dan tumbuh dari dalam diri individu (Instrinsik) dan dari luar diri individu (Ekstrinsik).
2.      Jenis - Jenis Motivasi
       Salah satu fungsi pengajaran adalah memberikan motivasi kepada siswa agar mereka bisa melaksanakan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin secara efektif dan produktif. Adapun mengenai motivasi terbagai menjadi dua macam, yaitu : motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.
a. Motivasi Instrinsik (Instrinsic Motivation)
Motivasi Instrinsik ialah motivasi yang berasal dari diri sesorang itu sendiri tanpa dirangsang dari luar. Misalnya : orang yang gemar membaca, tidak usah ada yang mendorong, ia akan mencari sendiri buku-bukunya untuk dibaca. Motif intrinsik juga diartikan sebagai motivasi yang pendorongnya ada kaitan langsung dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam tujuan pekerjaan sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa tekun mempelajari mata kuliah psikologi karena ia ingin sekali menguasai mata kuliah itu.
b. Motivasi Ekstrinsik (Ekstrinsic Motivation)
Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datang karena adanya rangsangan dari luar seperti : seorang mahasiswa rajin belajar karena akan ujian. Motivasi ekstrinsik ini juga dapat diartikan sebagai motivasi yang pendorongnya tidak ada hubungannya dengan nilai yang terkandung dalam tujuan pekerjaannya. Seperti mahasiswa mengerjakan tugas karena takut sama dosennya.[4]
Bila seseorang telah memiliki motivasi instrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivsi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi instrinsik sangat dibutuhkan. Seseorang yang tidak memiliki motivasi instrinsik sulit sekali melakukan aktivits belajar secara terus menerus. Perlu ditegaskan, bahwa anak didik yang memiliki motivasi instrinsik cenderung akan menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, memiliki keahlian tertentu dan gemar belajar.
3. Prinsip- Prinsip Motivasi
Beberapa prinsip motivasi yang dapat dijadikan pedoman dalam proses belajar mengajar, antara lain :
a. Prinsip Kompetisi
Prinsip kompetisi adalah persaingan secara sehat, baik inter maupun antar pribadi. Kompetisi inter pribadi (Self Competition) adalah kompetisi dalam diri pribadi masing-masing dari tindakan atau unjuk kerja dalam dimensi tempat dan waktu. Sedangkan kompetisi antar pribadi adalah persaingan antara individu yang satu dengan yang lain. Dengan adanya persaingan yang sehat, dapat ditimbulkan motivasi untuk bertindak secara lebih baik.
b. Prinsip Pemacu
Dorongan untuk melakukan berbagai tindakan akan terjadi apabila ada pemacu tertentu. Pemacu ini dapat berupa informasi, nasehat, amanat, percontohan, dan lain-lain. Dalam hal ini motif teratur untuk mendorong
agar selalu melakukan berbagai tindakan dan unjuk kerja melalui konsultasi pribadi, nasehat atau amanat dalam upacara, ceramah keagamaan, bimbingan, pembinaan, dan lain sebagainya.
c. Prinsip ganjaran dan hukuman
Ganjaran yang diterima seseorang dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan sesuatu yang menimbulkan ganjaran itu. Setiap unjuk kerja yang baik apabila diberikan sebuah reward yang memadai cenderung akan menimbulkan motivasi. Misalnya pemberian hadiah kepada siswa yang berprestasi. Selain prinsip ganjaran, prinsip hukuman juga dapat menimbulkan motivasi siswa untuk tidak lagi melakukan tindakan yang menyebabkan hukuman itu.
d. Prinsip Kejelasan Dan Kedekatan Tujuan
Makin jelas dan makin dekat suatu tujuan, maka makin mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Sehubungan dengan prinsip ini, maka seyogyanya setiap siswa memahami tujuan belajarnya secara jelas.
Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan suatu tujuan dari tindakan yang diharapkan.
e. Pemahaman Hasil
Dalam uraian diatas, telah dikemukakan bahwa hasil yang dicapai seseorang merupakan balikan dari apa yang telah dilakukannya, dan itu semua dapat memberikan motivasi untuk melakukan tindakan selanjutnya. Perasaan sukses yang ada pada diri seseorang akan mendorongnya untuk selalu memelihara dan meningkatkan kerja agar terus menjadi lebih baik
lagi. Pengetahuan tentang balikan, memiliki kaitan erat dengan kepuasan yang dicapai. Sehubungan dengan hal tersebut, para pengajar seyogyanya selalu memberikan balikan kepada setiap unjuk kerja yang telah dihasilkan oleh setiap siswa. Misalnya mengembalikan tugas-tugas yang telah dibuat siswa dengan nilai dan komentarnya. Umpan balik (Feedback) seperti ini akan sangat bermanfaat untuk mengukur derajat hasil belajar yang telah dihasilkan untuk keperluan perbaikan dan peningkatan selanjutnya.
f. Pengernbangan Minat
Minat dapat diartikan sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek. Prinsip dasarnya adalah motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya. Dalam hubungan ini motivasi dapat dilakukan dengan jalan menimbulkan atau mengemhangkan minat siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian siswa akan memperoleh kepuasan dan unjuk kerja yang baik. Pada akhimya dapat menumbuhkan motivasi belajar secara efektif dan produktif.
g. Lingkungan Yang Kondusif
Lingkungan kerja yang kondusif, baik lingkungan fisik, sosial, maupun psikologis, dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak, fasilitas, dan sebagainya. Demikian pula lingkungan sosial­psikalagis seperti hubugan antar pribadi, kehidupan kelompok, kepimimpinan, promosi, bimbingan, kesempatan untuk maju, kekeluargaan dan sebagainya.
h. Keteladanan
Prilaku guru secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap prilaku murid yang sifatnya positif maupun negatif. Prilaku guru dapat meningkatkan motivasi belajar. Sehubungan dengan itu, maka sangat diharapkan agar diharapkan agar prilaku guru dapat menjadi sumber keteladanan bagi para siswanya. Dengan contoh-contoh yang dapat diteladani, para siswa dapat lebih meningkatkan produktivitas belajar mereka.
Sehubungan dengan hal diatas, ada beberapa prinsip belajar dan motivasi yang disampaikan oleh Hamalik (2002), agar mendapatkan perhatian dari pihak perencana pengajaran khususnya dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar.
Prinsip tersebut dapat digunakan oleh pendidik dalam peningkatan motivasi peserta didik dalam mengikuti belajar mengajar, sehingga didapatkan prestasi belajar yang optimal, diantaranya: 1) Kebermaknaan. Suatu bidang studi akan lebih bermakna bagi siswa apabila guru herusaha menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka miliki sebelumnya (masa lampau). Sesuatu yang menarik minat dan bernilai tinggi bagi siswa berarti bermakna baginya. Oleh sebab itu guru hendaknya berusaha menyesuaikan pelajaran dengan minat para siswanya, dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa berperan serta memilih. 2) Modelling. Siswa akan suka memperoleh tingkah laku baru bila disaksikan dan ditirunya. Pelajaran akan lebih mudah dihayati dan diterapkan oleh siswa jika guru mengupayakan mengajarkan dalam bentuk tingkah laku model, bukan hanya dengan mencerahkan atau menceritakan secara lisan. Dengan model tingkah laku itu, siswa dapat mengamati dan menirukan apa yang diinginkan oleh guru. 3) Komunikasi Terbuka. Siswa lebih suka belajar apabila penyajian terstruktur supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pengawasan siswa. 4) Prasyarat. Apa yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya mungkin merupakan faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Karena itu hendaknya guru berusaha mengetahui atau mengenali prasyarat- prasyarat yang telah mereka miiiki. 5) Novelty. Siswa akan lebih senang belajar bila perhatiannya ditarik oleh penyajian-penyajian yang baru (Novelty) atau masih asing. 6) Latihan atau Praktik yang Aktif dan Bermanfaat. Praktik secara aktif berarti siswa mengerjakan sendiri, bukan mendengarkan ceramah dan mencatat pada buku tulis. 7) Latihan Terbagi. Siswa lebih senang belajar, jika latihan di bagi menjadi sejumlah kurun waktu yang pendek. Latihan yang demikian akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dibandingkan dengan latihan yang dilakukan sekaligus dalam jangka waktu yang panjang. 8) Kurangi secara sistematis Paksaan belajar. Akan tetapi bagi siswa yang sudah mulai menguasai pelajaran, maka secara sistematis pemompaan itu dikurangi dan akhirnya siswa dapat belajar sendiri. 9) Kondisi yang merryenangkan. Siswa akan lebih senang melanjutkan belajarnya jika kondisi pengajarannya menyenangkan.
B. Aqidah akhlak
1. Pengertian Akidah Akhlak
Kata akidah berasal dari bahasa Arab (dalam bahasa Indonesia ditulis akidah), menurut etimologi, adalah ikatan, sangkutan. Disebut demikian karena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu. Dalam pengertian teknis artinya adalah iman atau keyakinan.[5]
Kata akhlak berasal dari kata jamak "Alkhuluku" atau "Al-khalku" yang bermakna "kejadian". Kedua kata tersebut berasal dari kata "Khalaka" yang mempunyai arti "menjadikan". Dari kata "Khalaka" inilah timbul bermacam­macam kata seperti : Al- khulku yang mempunyai makna "budi pekerti", Al­Khalik bermakna "Tuhan Pencipta Alam" (Masy'ari, 1980).
2. Jenis - Jenis Akhlak
Pada dasarnya perbuatan manusia ada yang baik dan ada buruk. Perbuatan yang baik disebut dengan akhlak yang baik dan identik dengan sifat para Nabi dan orang - orang shiddiq, sedangkan perbuatan yang buruk disebut dengan akhlak tereela atau buruk. Maka pada hakikafiya akhlak ada dua, yaitu akhlak yang baik atau terpuji (Al -Akhlaaqul Mahmuudah) dan akhlak yang buruk atau tercela (Al -Akhlaaqul Madzmuumah).
3. Pembelajaran Aqidah akhlak
Allah S WT sang pencipta dan pengatur alam semesta dengan kemahakuasaannya. Menciptakan manusia dari setetes air mani dengan kekuasaannya kita menjadi manusia yang sempurna, banyak sekali kenikmatan yang di berikan Allah SWT kepada manusia tetapi manusia kurang begitu mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya. Manusia diberi akal untuk berfkir atas semua yang ada dimuka bumi, dilaut dan diluar angkasa, dimana semua itu ada yang mengatur dan menciptakannya tiada lain adalah Allah S WT dengan segala sifat-sifat-Nya.
Secara umum sifat-sifat Allah dapat dibagi kedalam tiga macam, yaitu:
a. Sifat Wajib Allah, merupakan sifat yang pasti dimiliki Allah Mw.
b. Sifat Mustahil Allah, merupakan sifat yang pasti tidak dimiliki Allah SWT.
c. Sifat Jaiz Allah, merupakan sifat kewenangan Allah, yaitu Allah SWT bebas untuk melakukan sesuatu ataupun tidak melakukan sesuatu.
C. Pendekatan Berbasis Aktivitas
Dalam aktivitas pembelajaran di sekolah, guru harus mengusahakan agar siswa dapat melakukan proses belajar secara efektif agar memperoleh hasil pembelajaran yang sebaik-baiknya. Dalam kemajuan metodologi proses belajar mengajar saat ini asas aktivitas (Student activity) lebih di tonjolkan melalui suatu program unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih memadai.
Dari beberapa macam aktivitas menunjukkan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam memenuhi tujuan pengajaran. Sehingga dalam suatu kegiatan pengajaran, aktivitas siswa harus disesuaikan dengan materi pengajaran yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa.
Menurut Hamalik (2001)
Ada beberapa jenis aktivitas yang disampaikan oleh para ahli, antara lain : (1) Kegiatan-kegiatan visual. (2) Kegiatan-kegiatan lisan. (3) Mendengarkan. (4) Menulis. (5) Menggambar. (6) Metrik. ('7) Mental. (8) Emosional. (9) Berpikir. (10) Mengingat Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1. Kegiatan Visual. Yang termasuk kegiatan ini adalah membaea, meiihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
2. Kegiatan-kegiatan Lisan. Kegiatan mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan instrupsi adalah implementasi dari kegiatan lisan.
3. Kegiatan Mendengarkan. Dalam proses belajar mendengarkan adalah salah satu hal yang dilakukan, karena melalui aktivitas ini seorang siswa dapat memahami bahan pelajaran yang diajarkan.
4. Kegiatan Menulis, misalnya: menulis cerita, laporan, mengarang, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
S. Kegiatan Menggambar, seperti membuat grafik, chart, diagram, dan lain sebagainya.
6. Kegiatan Metrik. Kegiatan dalam bidang metrik antara lain melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
7. Kegiatan mental, meliputi memecahkan masalah, mengingat, menganalisis, melihat hubungan - hubungan dan membuat keputusan.
8. Kegiatan Emosional. Kegiatan- kegiatan daiam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain. Dari kegiatan ini diharapkan bisa menimbulkan minat, berani, tcnang, dan lain- lain.
9. Berpikir. Berpikir termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antar sesuatu.
10. Mengingat. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termasuk aktivitas belajar, apalagi mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas balajar lainnya (Ahamadi dan Supriyono, 1991).
Dari beberapa macam aktivitas diatas menunjukkan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam memenuhi tujuan pengajaran. Sehingga dalam suatu kegiatan pengajaran, aktivitas siswa harus disesuaikan dengan materi pengajaran yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pada permasalahan dalam penelitian tindakan yang berjudul "Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Aktivitas Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Aqidah Akhlak Pokok Bahasan Sifat-Sifat Allah Siswa Kelas VII Semester I MTs Hasyim Asy’ari Bawang" yang dilakukan oleh peneliti, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : Jika strategi pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru Madrasah Tsanawiyah dalam kegiatan belajar mengajar siswa kelas VII semester I MTs Negeri 3 Pondok Pinang, diganti dengan strategi pembelajaran berbasis aktivitas, maka dimungkinkan akan berpengaruh terhadap peningkatan motivasi belajar dan diikuti dengan prestasi belajar aqidah akhlak pokok bahasan sifat-sifat Allah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Lokasi penelitian tindakan ini adalah Madrasah Tsanawiyah Hasyim Asy’ari Bawang kab. Batang, kelas VII smester I terdiri dari 20 siswa dan 16 siswi. Kondisi kelas ukuran ruangan 7mX8m, dengan fentilasi pencahayaan ruangan cukup standard. Lama penelitian kurang lebih tiga bulan dimulai dari bulan Agustus sampai Desember 2009, sedangkan subjek dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor perbedaan kemampuan belajar antar siswa, dan kondisi lingkungan lokasi penelitian.
B. Prosedur Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII MTs Hasyim Asy’ari Bawang Kab. Batang pada tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas yang ingin mengungkap seberapa tinggi Tingkat efektifitas Pendekatan berbasis aktivitas dalam menumbuhkan motivasi belajar aqidah akhlak pokak bahasan sifat-sifat Allah pada siswa kelas VII. Penelitian ini dilakukan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga tatap muka (pertemuan).
Description: clip_image002Proses Penelitian Tindakan
Refleksi awal, kelas VII smester I materi Aqidah Akhlak sangat pasip, siswa hanya mendengar dan menyimak, bagaimana guru dapat meningkatkan motivasi belajar agar siswa aktip?
1. Perencanaan
Meliputi penyampaian materi Aqidah Akhlak khususnya sifat-sifat Allah, latihan dengan mengerjakan beberapa soal, pembahasan latihan soal, keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan dan motivasi siswa.
2. Tindakan (action) kegiatan mencakup
a. Siklus I dimulai dari refleksi awal, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi akhir.
b. Siklus II (sama dengan siklus I)
3. Observasi (pengamatan)
Pada tahap ini peneliti akan mengadakan pengamatan hasil belajar siswa dari keaktifan siswa yaitu :
1). Keaktifan siswa dalam diskusi
2). Banyaknya siswa yang bertanya
3). Banyaknya siswa yang menjawab pertanyaan guru/siswa lain
4). Memberikan pendapat
4. Refleksi
Pada kegiatan akhir tiap siklus perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil penelitian.
C. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian tindakan ini peneliti menggunakan beberapa prosedur pengumpulan data agar memperoleh data yang objektif. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:
1. Observasi
Obsevasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Zuriah, 2003). Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.
Ada dua observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian tindakan ini, diantaranya : (I) Obsevasi langsung, adalah pengamatan yang dilakukan dimana observer berada bersama dengan objek yang selidiki. Artinya peneliti ikut berpartisipasi secara langsung saat peristiwa terjadi. (2) Obsevasi tidak langsung, adalah observasi yang dilakukan dimana observer tidak berada bersama dengan objek yang selidiki. Tetapi, peneliti menggunakan daftar cek (Check List) dalam menggali atau mengumpulkan data ketika menggunakan terknik ini.
  1. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu prosedur terpenting untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, sebab banyak informasi yang diperoleh peneliti melalui wawancara. Wawancara dilakukan peneliti untuk memperoleh data sesuai dengan kenyataan pada saat peneliti melakukan wawancara. Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada siswa kelas VII dan guru - guru kelas VII Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Pondok Pinang.
  1. Dokumentasi
Zuriah (2003), menjelaskan bahwa dokumentasi merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa
arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil, atau hukum -hukum lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.
D. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
a. Sebanyak > 75% siswa dapat memahami materi sifat-sifat Allah
b. Ketuntasan belajar tercapai jika 85% siswa mendapat nilai > 65
c. Untuk kriteria keaktifan siswa mendapat nilai baik, dilihat dari hasil penilaian instrument.
DAFTAR PUSTAKA
Bogdan, R., & Biklen, S. 1982. qualitative research in education, Allyn & Bacon, Boston
Dakir, 1993. Dasar-Dasar Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Djalali, M. As'ad. 2001. Psikologi _Motivasi Minat Jabatan, Intelegensi, Bakat dan Motivasi Kerja, Wineka Media, Malang
Djamarah, S. B. 2002. Psik.ologi Belajar, PT. Rineka Cipta, Jakarta
Guba, E.G., & Lincoln, Y.S. 1981. Effective Evaluation, Jossey-Bass Publishers, Sanfransisco
Zuriah, N. 2003. Penelitian Tindakan Bidang Pendidikan Dan Sosial, edisi pertama, 13ayu Media Publishing, Malang
Hamalik, O. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, PT. Bumi Aksara, Jakarta
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar, Penerbit Sinar Baru Algensindo, Bandung
Kosasih, Andreas. 2004. Peranan Motivasi terhadap Hasil Belajarnya Siswa, Tabularasa, Vol. 2, No. 3
Miles, M.B., & Huherman, A.M. 1984. .Analisis Data Kualitatif. Terjemahan oleh Tjejep Rohendi Rohidi, Universitas Indonesia, Jakarta
Moeleng, L.J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Moeleng, L.J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Nasution, S. 1998. Metode Penelitian .Naturalistic Kualitatif, Penerbit Tarsito, Bandung
Nurhadi, 2002. Pendekatan Kontekstual, Universitas Negeri Malang, Malang




[1]. Umi Culsum,S.Pd, Windy Nofia,S.Pd, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Surabaya, Kashiko, 2006, Hal.469.
[2]. Abdul Rahman dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Jakarta, Prenada Media, Hal. 132
[3]. Ibid, Hal. 133
[4]. Ibid, Hal. 140
[5]. Mohammad Daud Ali,H.SH.Prof, Pendidikan Agama Islam, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2011, Hlm. 199            

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More